.

.

Miya Alexa Master of Ceremony

Wedding | Seminar | Talkshow | Gathering | Dinner Etc.
Fluent in English & Indonesia
.
Smart, Sexy elegant, Warmest and Cheerful person with negotiable fee.

Wedding
Traditional Wedding | Modern Wedding | International Wedding (English-Indonesia) | Akad Nikah & Resepsi | Formal Wedding | Casual Reception | Etc.

MC All Event
Seminar | Moderator | Talkshow | Dinner Etc.



December 19, 2009

Menghargai Orang Lain


Menghargai Orang Lain
Oleh : Andrie Wongso

Dikisahkan, di sebuah pesta perpisahan sederhana pengunduran diri seorang direktur. Diadakan sebuah sesi acara penyampaian pesan, kesan, dan kritikan dari anak buah kepada mantan atasannya yang segera memasuki masa pensiun dari perusahaan tersebut.

Karena waktu yang terbatas, kesempatan tersebut dipersilahkan dinyatakan dalam bentuk tulisan. Diantara pujian dan kesan yang diberikan, dipilih dan dibingkai untuk diabadikan kemudian dibacakan di acara tersebut, yakni sebuah catatan dengan gaya tulisan coretan dari seorang office boy yang telah bekerja cukup lama di perusahaan itu.

Dia menulis semuanya dengan huruf kapital sebagai berikut, "Yang terhormat Pak Direktur. Terima kasih karena Bapak telah mengucapkan kata "tolong", setiap kali Bapak memberi tugas yang sebenarnya adalah tanggung jawab saya. Terima kasih Pak Direktur karena Bapak telah mengucapkan "maaf", saat Bapak menegur, mengingatkan dan berusaha memberitahu setiap kesalahan yang telah diperbuat karena Bapak ingin saya merubahnya menjadi kebaikan.

Terima kasih Pak Direktur karena Bapak selalu mengucapkan "terima kasih" kepada saya atas hal-hal kecil yang telah saya kerjakan untuk Bapak.Terima kasih Pak Direktur atas semua penghargaan kepada orang kecil seperti saya sehingga saya bisa tetap bekerja dengan sebaik-baiknya, dengan kepala tegak, tanpa merasa direndahkan dan dikecilkan. Dan sampai kapan pun bapak adalah Pak Direktur buat saya. Terima kasih sekali lagi. Semoga Tuhan meridhoi jalan dimanapun Pak Direktur berada. Amin."

Setelah sejenak keheningan menyelimuti ruangan itu, serentak tepuk tangan menggema memenuhi ruangan. Diam-diam Pak Direktur mengusap genangan airmata di sudut mata tuanya, terharu mendengar ungkapan hati seorang office boy yang selama ini dengan setia melayani kebutuhan seluruh isi kantor.

Pak Direktur tidak pernah menyangka sama sekali bahwa sikap dan ucapan yang selama ini dilakukan, yang menurutnya begitu sederhana dan biasa-biasa saja, ternyata mampu memberi arti bagi orang kecil seperti si office boy tersebut. Terpilihnya tulisan itu untuk diabadikan, karena seluruh isi kantor itu setuju dan sepakat bahwa keteladanan dan kepemimpinan Pak Direktur akan mereka teruskan sebagai budaya di perusahaan itu.

Friends....

Tiga kata "terimakasih, maaf, dan tolong" adalah kalimat pendek yang sangat sederhana tetapi mempunyai dampak yang positif. Namun mengapa kata-kata itu kadang sangat sulit kita ucapkan? Sebenarnya secara tidak langsung telah menunjukkan keberadaban dan kebesaran jiwa sosok manusia yang mengucapkannya. Apalagi diucapkan oleh seorang pemimpin kepada bawahannya.

Pemimpin bukan sekedar memerintah dan mengawasi, tetapi lebih pada sikap keteladanan lewat cara berpikir, ucapan, dan tindakan yang mampu membimbing, membina, dan mengembangkan yang dipimpinnya sehingga tercipta sinergi dalam mencapai tujuan bersama.

Tentu bagi siapapun kita perlu membiasakan mengucapkan kata-kata pendek seperti terima kasih, maaf, dan tolong dimana pun, kapan pun, dan dengan siapa pun kita berhubungan. Dengan mampu menghargai orang lain minimal kita telah menghargai diri kita sendiri.

Ikatkan Sehelai Pita Kuning Bagiku......



Ikatkan Sehelai Pita Kuning Bagiku

Pada tahun 1971 surat kabar New York Post menulis
kisah nyata tentang seorang pria yang hidup di sebuah
kota kecil di White Oak,,Georgia, Amerika. Pria ini
menikahi seorang wanita yang cantik dan baik,sayangnya
dia tidak pernah menghargai istrinya. Dia tidak
menjadiseorang suami dan ayah yang baik. Dia sering
pulang malam-malam dalam keadaan mabuk, lalu memukuli
anak dan isterinya.

Satu malam dia memutuskan untuk mengadu nasib ke kota
besar, New York.Dia mencuri uang tabungan isterinya,
lalu dia naik bis menuju ke utara,ke kota besar, ke
kehidupan yang baru. Bersama-sama beberapa temannyadia
memulai bisnis baru. Untuk beberapa saat dia menikmati
hidupnya. Sex, gambling, drug. Dia menikmati semuanya.
Bulan berlalu. Tahun berlalu. Bisnisnya gagal, dan ia
mulai kekurangan uang. Lalu dia mulai terlibat dalam
perbuatan kriminal. Ia menulis cek palsu dan
menggunakannya untuk menipu uang orang. Akhirnya pada
suatu saat naas,dia tertangkap. Polisi menjebloskannya
ke dalam penjara, dan pengadilan menghukum dia tiga
tahun penjara. Menjelang akhir masa penjaranya, dia
mulai merindukan rumahnya. Dia merindukan istrinya.
Dia rindu keluarganya. Akhirnya dia memutuskan untuk
menulis surat kepada istrinya, untuk menceritakan
betapa menyesalnya dia. Bahwa dia masih mencintai
isteri dan anak-anaknya. Dia berharap dia masih boleh
kembali.Namun dia juga mengerti bahwa mungkin sekarang
sudah terlambat, oleh karena itu ia mengakhiri
suratnya dengan menulis, "Sayang, engkau tidak perlu
menunggu aku. Namun jika engkau masih ada perasaan
padaku, maukah kau nyatakan? Jika kau masih mau aku
kembali padamu, ikatkanlah sehelai pita kuning bagiku,
pada satu-satunya pohon beringin yang berada di pusat
kota. Apabila aku lewat dan tidak menemukan sehelai
pita kuning,tidak apa-apa. Aku akan tahu dan mengerti.
Aku tidak akan turun dari bis, dan akan terus menuju
Miami. Dan aku berjanji aku tidak akan pernah lagi
menganggu engkau dan anak-anak seumur hidupku."
Akhirnya hari pelepasannya tiba. Dia sangat gelisah.
Dia tidak menerima surat balasan dari isterinya. Dia
tidak tahu apakah isterinya menerima suratnya atau
sekalipun dia membaca suratnya, apakah dia mau
mengampuninya? Dia naik bis menuju Miami, Florida,
yang melewati kampung halamannya, White Oak.Dia sangat
sangat gugup. Seisi bis mendengar ceritanya, dan
mereka meminta kepada sopir bus itu, "Tolong, pas
lewat White Oak, jalan pelan-pelan. ..kita mesti lihat
apa yang akan terjadi..." Hatinya berdebar-debar saat
bis mendekati pusat kota White Oak. Dia tidak berani
mengangkat kepalanya.

Keringat dingin mengucur deras. Akhirnya dia melihat
pohon itu. Air mata menetes di matanya... Dia tidak
melihat sehelai pita kuning... Tidak ada sehelai pita
kuning.... Tidak ada sehelai..... . Melainkan ada
seratus
helai pita-pita kuning....bergantun gan di pohon
beringin itu...Ooh... seluruh pohon itu dipenuhi pita
kuning...!!! !!!!!!!!!
Kisah nyata ini menjadi lagu hits nomor satu pada
tahun 1973 di Amerika. Sang sopir langsung menelpon
surat kabar dan menceritakan kisah ini. Seorang
penulis lagu menuliskan kisah ini menjadi lagu, "Tie a
Yellow Ribbon Around the Old Oak Tree", dan ketika
album ini di-rilis pada bulan Februari 1973, langsung
menjadi hits pada bulan April 1973. Sebuah lagu yang
manis, namun mungkin masih jauh lebih manis jika kita
bisa melakukan apa yang ditorehkan lagu tersebut,...

Isteri, Pacar dan Sobat yang baik....

Apakah anda juga bisa memaafkan bagi orang2 yang telah
berbuat salah kepada anda?.... isteri si pemabuk itu
telah memberikan begitu besar kesetiaannya dan mau
memaafkan suaminya.

If GOD Always Forgives you,